Dalam sebuah keterangan hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Thawaf di sekitar Ka'bah seperti hal-nya shalat, hanya saja kalian diperbolehkan berbicara didalamnya, maka barang siapa yang ingin berbicara, hendaknya tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi)

Orang yang thawaf hendaknya menghadapkan wajah dan hatinya kepada Allah SWT, sembari memohon kepada Allah SWT untuk kebaikan dunia dan akhirat dalam bahasa apapun, sebab tidak ada doa-doa khusus untuk tiap putarannya. Dan hendaknya tidak pula orang yang Thawaf disibukkan dengan pembicaraan masalah-masalah duniawi.

Tentunya, saat berthawaf, jamaah pun dianjurkan untuk selalu menjaga akhlak. Adakalanya, ketika situasi mulai ramai dan kondisi penuh sesak, maka sikap toleransi dan memuliakan sesama muslim harus diutamakan.

Sebaiknya, tidak terlibat aksi saling dorong apalagi menyakiti sesama, meski kadang hal itu terjadi pada diri kita. Karenanya, sebelum melakukan thawaf, perlu mengkondisikan hati.

Dalam pelaksanaannya, ada hal yang perlu diperhatikan agar tidak terpisah dari rombongan. Sebaiknya, sesama rombongan hendaklah menanamkan saling menjaga dan saling membantu.

Biasanya, untuk melaksanakan thawaf memakan waktu satu jam lebih, apalagi dilanjutkan dengan sa’i. Jika dalam satu rombongan itu terdapat jamaah yang sudah sepuh dan udzur, maka musti mendapat perhatian untuk dijaga dan dibantu.

Cara melakukan thawaf dengan menghadap ke arah Hajar Aswad dari arah terbitnya matahari, kemudian mengangkat kedua tangan seraya bertakbir dan beristislam (mengecup). Lalu berjalan mengitari Kabah dengan menempatkannya di sebelah kiri sebanyak tujuh putaran yang berakhir di depan Hajar Aswad (sudut Kabah bagian timur).

Berikut adab-adab dalam thawaf adalah:

1. Hendaknya thawaf dilakukan dengan khusyu, menghadirkan hati dalam mengagungkan Allah SWT, takut kepada-Nya dan selalu berharap keridhoan-Nya

2. Tidak berbicara kecuali diperlukan dan jika berbicara maka berbicara yang baik.

3. Tidak menyakiti orang lain baik dengan perkataan ataupun perbuatan.

4. Memperbanyak dzikir dan do’a dan bershalawat kepada Rasulullah SAW.

Adapun waktu yang ideal untuk melaksanakan Thawaf adalah malam hari lepas sholat Isya, atau sekitar pukul 21.00 malam. Namun lebih ideal lagi, selepas dini hari hingga setelah shalat subuh. Hanya saja, di waktu itulah penduduk Mekah dan jamaah haji maupun umrah kerap memadati area mathaf (tempat thawaf).

Tak heran bila penuh sesak. Sebagian besar, pemilihan waktu tersebut didasari agar terhindar dari sengatan panas matahari di kota Mekah yang kadang suhu udaranya mencapai 45 derajat celcius saat musim panas.

Biasanya, matahari semakin terik saat shalat Ashar, bisa mencapai 50 derajat celcius. Suhu udara makin naik hingga akhir Agustus nanti, karena memang itulah puncaknya musim panas di Mekah.

Tapi, meski udara sangat panas, tetap saja Baitullah tak pernah sepi dari aktivitas thawaf. Apalagi di saat musim haji, dimana Masjidil Haram selalu dipadati manusia

 

Sumber: hajiumrahnews.com