Mekah, 24 Feb 2016...

Oleh: Ust. Rano Karno Bilal

Rapat keluarga memutuskan bahwa tanah dan rumah warisan, akan dijual. Dan keluarga juga sepakat, uang hasil penjualannya akan dipergunakan untuk biaya umroh bersama seluruh keluarga. Pilihan tersebut dirasa sangat tepat  untuk dilakukan. Mereka berharap bisa membadalkan kedua orang tua yang belum sempat haji dan umroh. Di sisi lain, keempat anak-anaknya bisa datang pula ke tanah suci. Lebih penting dari itu semua, warisan tidak boleh membuat keluarga mereka retak. Urusan warisan harus dikelola agar seluruh anggota keluarga justru rukun dan damai dalam ketaatan.

Sebagai penanggung jawab dipilihlah Ibu Kusmarni. Merupakan anak tertua, Ibu Kusmarni mendapat kepercayaan untuk mengurus semuanya. Beberapa kolega dan teman dihubungi barangkali berminat membeli rumah dan tanah di daerah Bima NTB ini. Bahkan seluruh anak-anak mereka yang beberapa merantau ke kota besar pun ikut membantu promosi. Harapannya besar agar seluruh anggota keluarga bisa umroh dan mengumrohkan orang tua. Sungguh perbuatan yang sangat mulia.

Tapi ketentuan Allah tidak ada yang mampu menghalangi. Bahkan doa-doa yang terucap pun tak mampu merubah takdir yang telah terbentang. Hari telah merangkum minggu yang bersekutu dalam bulan. Bulan pun berpadu membentuk koloni tahun yang terus bergerak. Hingga waktu tak terasa mengikuti pelaksanaan ibadah haji memasuki tahun kelima. Tanah dan rumah belum berpindah tangan. 

Beberapa kali Ibu Kusmarni harus bolak-balik Jakarta - Bima, untuk mengurus proses negosiasi. Ibu Kusmarni sekarang tinggal bersama anaknya di Bekasi. Sehingga setiap ada peminat yang serius, beliau yang akan hadapi. Harapannya satu, bisa umroh sekeluarga dan mengumrohkan sang pendiri keluarga. 

Sepertinya Allah masih senang mendengarkan ratapan doa Kusmarni sekeluarga. Allah masih suka dengan tetesan air mata pengharapan Kusmarni sekeluarga. Rupanya Allah belum merubah takdir Nya meski tahajud telah tertunai tanpa hitungan. Belum termasuk pertanyaan tetangga yang kadang terasa seperti menginterograsi. Pertanyaan mereka sederhana dan wajar "kapan umroh?". Jika mengingatnya Kusmarni merasa sedih. Bahkan sempat terlintas sebuah tanya, "Kenapa mau berbuat baik kok susah?". Betul-betul situasi yang sangat tidak nyaman. "Ya Allah, berilah jalan terbaik" batin Kusmarni berkata.

"Alhamdulillah Bu, Alhamdulillah, ada kabar baik, terima kasih ya Allah" Ucap anak Kusmarni. Kusmarni pun senang. Pasti sang anak mau mengabarkan rumah dan tanah terjual. Atau setidaknya ada yang berminat dengan harga yang ditawarkan. "Bukan masalah rumah dan tanah Bu" jawab sang anak setelah ditanyakan. Raut muka Kusmarni kembali pun menyimpan kekecewaan. Kabar yang diharapkan belum terdengar jelas. Kenapa anaknya mengucapkan Alhamdulillah jika tak mampu membuatnya berbunga? Kusmarni menelan ludah yang telah bersarang di tenggorokannya. Kecewa!

"Memang bukan rumah dan tanah yang ingin Ananda sampaikan" ucap sang anak melanjutkan. Sejurus kemudian, Kusmarni menangis sesenggukan tanda bahagia. Yah, ternyata tahun ini ia bisa berangkat umroh. Anaknya telah memenangkan undian belanja yang hadiah utamanya umroh. Bukan kepalang senangnya Kusmarni. 

Kusmarni teringat ucapan seorang Ustadz tentang umroh. Jika seseorang umroh, maka ia menjadi tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah akan menyediakan hidangannya. Diampuninya dosa-dosa dan dikabulkannya doa. Ini artinya kesempatan telah terbuka di depan mata. Kusmarni telah menyiapkan doa khusus saat di tanah haram. Doa yang selama ini lantunkan dalam pengharapan. Doa yang selalu diiringi dengan air mata. Doa yang kadang keluar dari reflek kesedihan. Doa yang akan mengantarkannya menjadi anak sholehah. Yah Kusmarni akan berdoa "Ya Allah semoga rumah dan tanahnya cepat laku, Amin!" (RKB)