Bogor, 24 Januari 2016

Oleh: Ust. Rano Karno Bilal

Kebimbangan sempat mengiringi kepergian Yulika ke tanah suci. Bagaimana tidak? Arfan yang sempat ia kenal saat kuliah kerja nyata (KKN), menyatakan serius untuk melamarnya. Saking seriusnya, Arfan bahkan akan langsung menikahinya bulan depan. Tanpa pacaran bagi gadis yang biasa dipanggil Ayu ini, adalah hal yang baik. Tapi kalau secepat itu, tentu membuat Ayu dilema.

Bagi Ayu, beribadah ke tanah suci bersama sang nenek, jauh lebih penting daripada urusan menikah. Nenek Sarnah sudah setahun lalu dijanjikannya untuk umrah bareng. Saat itu Ayu tak memiliki uang yang cukup. Uang tabungannya hanya empat juta rupiah. Tapi justru dengan kondisi itulah Ayu selalu berdoa agar bisa membahagiakan sang nenek yang begitu mencintainya. Wanita tangguh, single parent yang telah membesarkan 8 anaknya, termasuk ibuku. Kekuatan doa dan niat tulus,  mengantarkan asisten dosen ini bisa membayar lunas umroh berdoa.

Dalam setahun terakhir, hari-hari sarjana sosial ini tentu berkonsentrasi agar bisa umroh. Perkenalannya dengan Arfan bukanlah sesuatu yang istimewa. Arfan baginya sama sepertinya teman-temanya yang lain. Bertemu, sesekali ngobrol atau berdiskusi tentang berbagai hal adalah wajar sebagai teman. Tapi akhirnya menjadi tidak wajar saat Arfan serius menjalin hubungan, bahkan mengajaknya menikah segera. Bimbang sempat hinggap dalam hari-hari menjelang umroh.

Alhamdulillah sesaat sebelum berangkat hatinya telah mantap memberi jawaban. Ayu akan menjawabnya setelah umroh. Dan Ayu yakin, Allah akan memberi jawaban atas langkah yang harus dilaluinya. Menerima atau menolak? Yulika pasrahkan sama Allah.

Doa dan dzikir terus dilantunkan Yulika. Umroh maqbul merupakan doa utama yang selalu dipanjatkan. Keampunan untuk dirinya, kedua orang tua dan seluruh saudaranya tak lupa ia pinta kepada Allah. Lantunan doa pun menyeret pada keinginan agar masalahnya segera ada jawaban. Saat sholat di masjid Nabawi, bahkan di raudloh, doa dan dzikir tak pernah luput ia hadirkan.

Azan maghrib telah berkumandang. Seluruh jamaah telah bersiap menghadap sang pemilik kehidupan. Yulika pun bersiap menjalankan kewajiban tersebut. Yulika heran, sholat maghrib kali ini begitu syahdu. Ketenangan dan kedamaian terasa hadir melingkupi batinnya. Lantunan quran dari sang imam terasa menyentuh. Tak terasa air mata pun menetes mengiringi doa yang dipinta. Sujud kesyukuran beberapa kali ia lakukan.

Saat Yulika mengangkat kepalanya, dia dikagetkan oleh sesosok wanita yang tiba-tiba ada di depannya. Dia begitu cantik dan anggun dengan senyuman yang menghias di wajahnya. Yulika merasa tak pernah melihat wanita secantik dia. Sang wanita mengajaknya ngobrol termasuk memintanya foto.

Tiba-tiba Yulika seperti terbangun dari mimpi. Ia merasa telah menjalani kehidupan yang begitu damai. Saat matanya terbuka, ia semakin kaget dan bingung. Tiba-tiba di jarinya telah melingkar benang emas seperti cincin. Terasa kuat ikatan di jarinya. Ia tengok ke kanan dan ke kiri, barangkali wanita tadi yang memberinya. Tapi ternyata sosok yang ia cari tak ada. Darimana cincin emas ini? Kenapa tiba-tiba melekat di jarinya? Dan seribu tanya terus berkecamuk dalam dirinya. Ya Allah apa maksud semua ini?

Yulika terus memandang cincin misterius itu. Sangat indah dengan kualitas emas 24 karat. Begitu kuat melekat di jarinya dengan model diikat. Terus ia pandangi, hingga kemudian ia pun menangis. Mungkin inilah jawaban dari apa yang menjadi masalahnya. Cincin itu mengingatkan pada tawaran Arfan untuk menerima pinangannya?

Dua pekan berlalu, dan hari ini Yulika menjadi orang yang berbahagia di dunia. Bagaimana tidak? Lantunan hafalan surat Arrahman dari lisan Arfan, menjadi mahar janji sucinya. Ayahnya telah menerima Arfan sebagai menantu dan pendamping hidup Yulika. Yah, ia telah menerima Arfan sebagai suaminya. Meski Arfan sempat bingung dengan keputusan Yulika yang mau menerima menjadi istrinya tanpa pacaran. Arfan pun bahagia, Yulika begitu yakin bahwa ia sangat mencintainya. Saat ditanya saat lamaran dua pekan lalu, Yulika berkata "Akan Ayu ceritakan saat malam pertama kita".

Arfan dan Yulika, barakallahu lakuma, wabaraka alaikuma, wajamaa bainakuma fi khoir...