Oleh: Ust Rano Karno - Pembimbing Umrah Hannien Tour

Madinah Kuno

(Bagian 3)

Suku Aus dan Khazraj menetap di Yastrib, tempat di mana kaum Yahudi datang lebih awal. Aus dan Khazraj disebut penduduk arab asli di Yatsrib meski datang setelah Yahudi. Yahudi mengambil wilayah-wilayah yang subur dan jernih, hal ini memaksa Aus dan Khazraj menempati wilyah-wilayah gurun Yastrib.

Suku Aus dan Khazraj merupakan suku yang berasal dari Yaman, nama “Aus” dan “Khazraj” berasal dari dua orang laki-laki kakak beradik. Keturunan mereka terbagi menjadi dua golongan, karena suku ini memiliki hubungan dengan Suku Azd yang pindah dari Yaman ke Utara dalam periode yang berbeda.

Yatsrib sebagai suatu wilayah yang strategis menjadi wilayah perebutan antara penduduk setempat (bangsa Arab khususnya Aus dan Khajiraz) dan pendatang (bangsa Yahudi). Perebutan ini disebabkan kondisi geografiss wilayah ini yang memiliki sumber air yang cukup melimpah serta kondisi tanah yang subur. Bukitnya dihimpit oleh dua dataran tinggi al-basith (kerikil-kerikil hitam) dan terpisahnya oleh oase-oase Quba, Sineh, Ratij dan Huseikhah.

Kaum Yahudi Madinah telah menempati wilayah yang sangat subur terutama daerah Harrah Waqim. Walaupun demikian, mereka masih berusaha untuk menguasai seluruh kawasan tanah pertanian yang subur, tetapi usaha mereka terganjal oleh keberadaan suku Aus dan Khajraz yang juga menguasai beberapa kawasan yang subur. 

Untuk menjatuhkan dan mengusir bangsa Arab Yatsrib, kaum yahudi mengadu domba suku Aus dengan Khajraz.
Akibatnya terjadi perang saudara yang hebat dan perkepanjangan antara suku Aus dan Khajraz sekitar 617-618 atau lima tahun sebelum Nabi saw hijrah ke Yastrib dan perang ini dikenal Perang Buats. 

Ketika itu suku Aus yang memiliki kekuatan lebih besar karena mendapat dukungan dari Yahudi Nadhir dan Quraidzah dapat mengalahkan suku Khajraz. Pada musin haji tahun itu, Rasulullah saw mencoba menarik simpati kaum Khajraz, tetapi mereka menolaknya. Sebaliknya suku Aus justru menaruh simpati pada ajakan Nabi saw sehingga melalukan perjanjian Aqibah I dan II.