Oleh: Ustadz Rano Karno Mohammad Bilal

Ustadz Ahmad Tajwadi telah lama memimpikan memenuhi panggilan Allah datang ke tanah haram. Niatan sosok bersahahaja yang telah bertahun-tahun membina majelis taklim ini terus ia pelihara mesti tak tahu darimana dana haji umroh diperoleh. Doa senantiasa terucap dari lisannya mengiringi sholat malam yang ia dirikan.

Sungguh keinginan yang sangat mendalam bergelayut dalam pengabdiannya kepada sang Kholiq. Airmata pengharapkan memenuhi sempurna rukun Islamnya. Niatnya bukan sekedar memenuhi syarat gelar Ustadz yang sudah selayaknya telah ke baitullah. Sungguh kewajiban menggenapkan keyakinannya lebih utama dari sekedar status Ustadz yang bergelar haji.

Hingga Allah begitu indah mengatur skenario terbaiknya. Lima tahun lalu datang seseorang yang ingin menjadi muridnya. Seseorang yang mengalami banyak cobaan dan membutuhkan bimbingan agar tidak terjerumus kepada hal keburukan.

Waktu berlalu, hingga kalimat terindah yang terucap dari sang murid membuatnya yakin bahwa Allah mendengar doanya. Yah, ternyata sang murid mengajak umroh bersamanya. Sungguh bentuk kesyukuran luar biasa srpanjang tenggang waktu pendaftaran awal juni hingga akhir Desember ini.

Kerinduannya dengan Rasulullah membuatnya betah berlama-lama iktikaf di masjid Nabawi. Kebahagiaannya menjadi tamu Allah membuatnya banyak berdzikir di masjidil haram. Segala doa dan ampunan sang Ustadz panjatkan saat di multazam. Permintaan maaf dan rasa penyesalan yang mendalam pun ia sampaikan kepada pembimbing umroh.

Bagaimana sang Ustadz tidak menyesal? Seluruh rombongan jamaah umroh harus menunggu beberapa jam karena tiba-tiba sang Ustadz menghilang setelah thowaf. Seluruh jamaah gelisah karena sa'i dan tahalul belum juga dilaksanakan. "Maafkan saya, maafkan saya, sungguh saat melihat ka'bah, seolah-olah Allah memanggilku hingga memisahkan diri dan lupa saya ditunggu jamaah" ungkapnya. "Dan maafkan saya, saya tidak tahu dimana rombongan berada, saya bingung pintu keluarnya, maafin yah.”