Pertama, shalat istisqa merupakan sunnah Rasulullah SAW dan juga dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW sepeninggal beliau. Shalat istisqa adalah shalat sunnah meminta hujan kepada Allah ketika semua makhluk hidup di bumi mengalami kekeringan karena hujan tak kunjung tiba. Sumur-sumur kering tak ada air, air sungai jauh berkurang debitnya, rerumputan menguning, kecoklatan dan akhirnya mati, pohon-pohon meranggas, hewan-hewan kekurangan air dan manusia pun mengalami bencana serius. Saat itulah dilakukan shalat istisqa. Shalat minta rahmat dari Allah agar Dia menurunkan hujan yang penuh berkah, hujan yang memberi kehidupan. Kullu hayyin minal maa’. Setiap kehidupan bersumber dari air. Sebagaimana diceritakan di dalam hadits berikut ini, yang artinya,

“Orang-orang mengadu kepada Rasulullah SAW tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”.

Aisyah lalu berkata, “Rasulullah SAW keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau bertakbir dan memuji Allah, lalu bersabda,

“Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah SWT telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepadaNya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian”

Kemudian beliau mengucapkan:

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. (Al-Fatihah: 2-4). Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha Kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang ditetapkan”.

Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua rakaat. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah.

Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda:

“Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no.1173, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Kedua, shalat istisqa ini digelar agar semua hamba-hambaNya mengakui akan kebesaran Allah sebagai penguasa satu-satunya di jagat raya ini. tidak ada penguasa yang mampu menurunkan hujan kecuali Allah. Sebagaimana firman-Nya:

“Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai” (QS Ibrahim: 32)

Ketiga, shalat istisqa dilakukan oleh hamba-hamba Allah SWT menyadari bahwa setiap bencana yang menimpa manusia disebabkan karena tangan manusia itu sendiri. Sebagaimana bencana kabut asap yang sedang dihadapi oleh sebagian saudara-saudara kita di Riau, Palembang, Jambi, Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur. Sebagai akibat pembakaran lahan gambut bukan untuk investasi tetapi sebagai lahan konservasi. Maka terjadilah bencana yang dahsyat dari tahun ke tahun. Lebih-lebih sekarang ini, tahun ini merupakan musim kemarau terpanjang. Simaklah firman Allah SWT:

“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar. 42. Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”  (QS Ar-Ruum: 41-42)

Tetapi Allah SWT dengan kasih sayangnya yang tanpa batas memberi jalan keluar dari setiap bencana kepada orang-orang dengan berhadap dan berdoa hanya kepadaNya.

Keempat, shalat istisqa dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang shalih agar manusia menyadari bahwa manusia makhluk yang lemah, makhluk yang dhaif dan makhluk sangat membutuhkan Allah SWT. Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan/faqir kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu lagi Maha Terpuji” (QS Fathir: 15)

Kelima, shalat istisqa digelar oleh orang-orang yang beriman agar manusia mengakui kesalahan, dosa, maksiat yang kerap mereka lakukan kemudian mereka kembali kepada Allah SWT dengan banyak-banyak beristighfar dan bertaubat kepadaNya. Maksiat, dosa dan kesalahan adalah penyakit. Sedangkan istighfar dan taubat adalah obatnya.

Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS Nuh: 10-12)

Marilah kita beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT dengan istighfar yang banyak..

Astaghfirullahal’azhim alladzi laa ilaaha illa Huwal Hayyul Qayyumu wa atuubu ilaik..

 

Picsource: www.google.com

Sumbeer:http://www.dakwatuna.com/2015/10/28/76355/khutbah-istisqa-5-alasan-kita-menggelar-shalat-istisqa/5/#axzz3q1z8ZbM3