Oleh: Budiman Mustofa, Lc, M.P.I -Ketua Majelis Rindu Rasul, pembimbing Hannien Tour Solo-

Angka 70 bagi bangsa kita tahun ini menjadi istimewa. Barangkali yang paling terkesan adalah kakek atau buyut kita yang sekarang berumur 90 atau 100 tahun. Mereka lah yang paling paham arti kemerdekaan. Sebab angka 70 itu menunjukkan umur kemerdekaan bangsa yang sangat kita cintai ini. Kemerdekaan yang diperjuangkan lebih dari 350 tahun. Kemerdekaan yang direbut dengan teriakan takbir para pejuang muslim, "Allohu Akbar."

350 tahun lebih, sebuah jeda waktu yang bukan sebentar. Itu artinya jika nenek moyang kita menghabiskan seluruh umurnya, mereka pun belum sempat menikmati kemerdekaan. Lebih dari tiga abad simbah kita berdarah-darah mengusir penjajah. Penjajah yang tidak hanya menguasai sumber daya alam, tapi juga memenjarakan sumber daya manusia. Apa yang penjajah lakukan semua sudah di luar batas perikemanusiaan. Agama kita, Islam pun, mengutuk segala bentuk penjajahan, sampai kapan pun dan dimanapun.

Sebagian besar mereka ada yang gugur syahid, sebagian kecil ada yang masih hidup hingga sekarang. Dari lisan mereka lah kita tahu susah payah dan pahit getirnya meraih kemerdekaan. Maka dari itu, kemerdekaan yang dihadiahkan mereka untuk kita menjadi sangat berharga.

Saat ini kita tinggal menikmatinya. Di bumi inilah kita lahir. Di bumi inilah kita dibesarkan. Di bumi inilah kita berkarya untuk kemajuan bangsa. Di bumi inilah kita sujud dan mengekspresikan penghambaan kita kepada Alloh. Mengajak seluruh nusantara bertahmid, bertasbih, bertahlil dan bertakbir atas nikmat kemerdekaan ini.

Tinggal menghitung hari lagi kita akan memeringati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Bendera merah putih pun berkibar diseantero negri. Jiwa dan hati ini pun mengenang kembali masa-masa perih, saat terjajah. Kita harus bersyukur atas kemerdekaan ini. Dan diantara tanda kesyukuran kita adalah mengakui bahwa anugerah kemerdekaan ini semata dari Alloh, mengucapkan dengan lisan dan meresapi dalam hati atas nikmat kemerdekaan ini. Kemudian menggunakan nikmat ini sesuai dengan tujuan pemberi nikmat, yaitu untuk beribadah kepada Alloh sebaik dan sebanyak mungkin. Baik ibadah kepada Alloh secara langsung, atau aktivitas sosial yang bernilai ibadah di mata Alloh. Yang kemanfaatan ibadah itu akan dirasakan oleh kita, masyarakat dan bangsa yang tercinta ini.

Jika kita mengingat 350 tahun pedihnya hidup di bawah penjajahan, pasti kita akan mensyukuri nikmat kemerdekaan ini. Air mata ini akan berderai, hati ini akan pilu, muka ini akan sayu, betapa selama ini kita belum melakukan yang terbaik untuk negara, agama dan bangsa ini. Bangkitlah wahai saudaraku. Berkaryalah. Bersyukurlah. Kita pasti bisa. Sebagaimana nenek moyang kita mampu membebaskan negri ini dengan Takbir Kemerdekaan.