Mungkin sebagian dari Anda sering mendengar mengenai Hadist Shahih. Apa sih yang dimaksud dengan Shahih?

Kata Shahih (الصحيخ ) dalam bahasa diartikan orang sehat antonim dari kata as-saqim (السقيم= ) orang yang sakit jadi yang dimaksud hadits shahih adalah hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat. Sehingga bisa dimaknai hadits shahih ini adalah hadits yang bisa dijamin kebenarannya dengan beberapa syarat.

Syarat-syarat yang menunjukan sebuah hadits itu shahih adalah:

A. Sanadnya Bersambung

Maksudnya adalah tiap-tiap perawi dari perawi lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya, dari sejak awal hingga akhir sanadnya.

Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad, biasanya ulama’ hadis melakukan langkah-langkah berikut:

  1. Mencatat semua periwayat yang diteliti,
  2. Mempelajari hidup masing-masing periwayat,
  3. Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasani, haddasani, akhbarana, akhbarani, ‘an,anna, atau kasta-kata lainnya.

B. Perawinya Bersifat Adil

Maksudnya adalah tiap-tiap perawi itu seorang Muslim, bersetatus Mukallaf  (baligh), bukan fasiq dan tidak pula jelek prilakunya.

Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakuakan dengan salah satu teknik berikut:

  • Keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil,  sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab jarh wa at-ta’dil.
  • Ketenaran seseorang bahwa ia bersifat adil, seperti imam empat Hanafi,Maliki, Asy-Syafi’i, dan Hambali.
  • khusus mengenai perawi hadits pada tingkat sahabat, jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. Pandangan berbeda datang dari golongan muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ali dianggap fasiq, dan periwayatannya pun ditolak.

C. Perawinya Bersifat Dhobith

Maksudnya masing-masing perawinya sempurna daya ingatannya, baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan).

Dhobith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan, sejak ia manerima hadits sampai meriwayatkannya kepada orang lain, sedang, dhobith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan.

Adapun sifat-sifat kedhobitan perowi, menurut para ulama, dapat diketahui melalui:

  • kesaksian para ulama
  • berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhobithannya.

D. Tidak Syadz

Maksudnya ialah hadits itu benar-benar tidak syadz, dalam arti bertentangan atau menyelesihi orang yang terpercaya dan lainnya.

Menurut asy-Syafi’i, suatu hadits tidak dinyatakan sebagai mengandung syudzudz, bila hadits itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah, sedang periwayat yang tsiqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. Artinya, suatu hadis dinyatakan syudzudz, bila hadist  yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadits yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah.

E. Tidak Ber’ilat

Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya, dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat menciderai pada ke-shahih-an hadits, sementara dhahirnya selamat dari cacat.

‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad maupun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama. Namun demikian, ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad, seperti menyebutkan muttasil terhadap hadits yang munqati’ atau mursal.

 

Sumber Gambar: google.com

https://maktabahmanhajsalafi.wordpress.com/istilah-ilmu-hadits/pengertian-hadits-shahih/