Tidak heran ketika kita mendengar para ibu menceritakan kasus yang sama.

"Haduh. Anak saya suseh bener bangun shalat subuhnya."

Biasanya antara orang tua yang satu dengan lainnya (jika memiliki anak yang seumuran SD) dipastikan pernah, iya pernah mendengar dan merasakan kasus yang sama: sama-sama menemukan kasus anaknya yang malas untuk shalat subuh.

Ada anak yang sudah bangun untuk shalat subuh, kemudian dalam hitungan detik sudah kembali nyungsep ke bantal.

Ada anak yang sampai susah payah di bangunkan dan setelah dia bangun? Tidak langsung wudhu dan shalat. Tapi duduk dalam durasi yang lamaaa dan ternyata duduknya sambil ngorok.

Dan kasus lain yang pada intinya anak sulit untuk bangun shalat subuh.

Dan inilah tips mudah memotivasi anak untuk giat shalat subuh.

1. Berikan pemahaman bahwa shalat subuh sama wajibnya dengan shalat fardhu yang lain.

Jika si kecil sangat semangat dan tidak pernah melewati shalat maghrib, isya, zuhur dan ashar kecuali shalat subuh dengan alasan-alasan ngantuklah, kesiangan lah, berat untuk bangun lah, sulit bangun lah, atau dengan alasan-alasan lainnya untuk melewati shalat subuh. Mari kita sampaikan bahwa shalat subuh itu sama wajibnya dengan shalat 4 waktu yang lainnya. Agar anak merasa bersalah ketika meninggalkan shalat yang wajib itu. Agar anak kita merasakan dan melakukan hal yang sama (merasa sama pentingnya) untuk shalat subuh. Dan tentu saja agar anak kita merasa sama tanggung jawabnya dengan shalat-shalat fardhu yang lainnya.

2. Shalat subuh memiliki keutamaan yang luar biasa.

Tidak sedang menafikan dengan kewajiban shalat fardhu yang lainnya. Tapi lebih ke spesial kita berikan pemahaman kepada anak tentang kewajiban shalat subuh agar semakin termotivasi untuk lebih giat bangun shalat subuh.

Kita bisa memberikan pemahaman kepada si kecil, bahwa pahala shalat sunah (sebelum subuh) dan shalat subuh tersebut miliki keutamaan yang saaangat luar biasa. Agar si kecil semakin termotivasi untuk bangun kemudian shalat subuh tepat pada waktunya.

kita fahamkan  kepada si kecil mengenai keutamaan shalat subuh sesuai dengan hadits yang berbunyi bahwa. “Dua rakaat sebelum fajar (subuh) lebih baik nilainya dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Wow luar biasa sekali. Jika shalat sunnahnya saja memiliki kelebihan yang luar biasa, maka dipastikan shalat subuh juga memiliki keutamaan yang luar biasa kerennya.

Sesuai dengan hadits yang berbunyi. “Barang siapa yang shalat subuh, maka dia berada dalam jaminan Allah.” (HR. Muslim).

Semoga si kecil faham ya.

3. Anak yang shalat subuh itu: Keren, TOP dan Luar Biasa.

Sampaikan kepada si Kecil bahwa tidak semua orang bisa dengan mudah melakukan shalat subuh. Baik anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek-kakek, nenek-nenek tidak di jamin mudah bangun shalat subuh.

Ada loh,bahkan banyak manusia yang sulit untuk bangun shalat subuh, males, malah bangun kesiangan. Tidak semuanya bisa untuk bangun shalat subuh pada waktunya. Dan kita sampaikan bahwa... Hanya orang TOP, orang keren, orang pilihan yang bisa melakukan shalat subuh.

Hanya orang luar biasa yang bisa melakukan shalat subuh karena ada orang yang lain, yang enggak bisa melakukanya.

Agar anak merasa bahwa dia memang bener-bener adalah anak pilihan, anak yang luar biasa bisa shalat di pagi hari ketika yang lain masih sibuk dengan selimutnya. Faktanya memang begitu ya? Hanya orang TOP lah yang berhasil menaklukan rasa ngantuk untuk shalat subuh.

4. Ayo menjadi para pejuang subuh.

Kita bisa menyampaikan kepada si kecil. Bahwa zaman sekarang saking sulitnya, saking beratnya orang untuk melakukan shalat subuh. Kini di media sosial ada sebuah komunitas bernama: Komunitas pejuang subuh (sama sekali bukan untuk iklan, saya bukan ownernya hehehehehe, hanya takjub saja dengan komunitas itu). Dan itu artinya apa? Saking orang lain ingin mendapatkan kebaikan dan melakukan shalat subuh. Mereka sampai membuat komunitas tersebut. Dan para pejuang subuh adalah orang hebat.

Jika si kecil masih merasa enggan, males, lesu untuk shalat subuh. Sampaikan ayo kita bangun dengan para pejuang subuh yang lain, kita sedang ikutan jadi pejuang subuh nih. Kita mau jadi the winner atau jadi the looser? Hanya pemenang lah yang bisa menaklukan rasa ngantuk kemudian lanjut shalat subuh.

Namun Jika kita lanjut tidur dan melewati shalat subuh? Itu artinya masuk ke the looser category.

Pilihan anak pasti akan jadi pemenang. Semoga saja ya.

5. Manajemen Tidur si Kecil.

Pola tidur biasanya sedikit banyak mempengaruhi anak untuk bangun subuh. Saya pernah menanyakan hal ini pada salah seorang siswa saya di Kelas.

“Apakah kamu melakukan shalat subuh tadi pagi?”

Dia menggeleng. “Tidak.” Dan dia menjawab ‘tidak’ bukan hanya sekali dua kali, tapi beberapa kali pada hari yang lain juga.

“Kenapa?” tanya saya heran.

Kemudian si anak menjawab. “Karena biasanya aku tidur sekitar jam 11 atau 12 malam, bahkan jam 1 atau 2 dini hari baru tidur. Jadi, bangunnya kesiangan. Boro-boro shalat subuh, bahkan buku pelajaran saja masih  sering lupa kebawa, abisan buru-buru siiih.”

See, pola tidur si kecil akan berpengaruh kepada pola bangunnya juga. Jika kita membiasakan anak untuk tidur lebih awal, atau tidur standar jam istirahat (maksimal -+ jam 9 malam), maka anak tidak akan mengeluh bangun subuh masih ngantuk, karena durasi tidurnya sudah lama dan sudah kenyang. Kemudian saat di bangunkan, tak sesulit dengan anak yang tidurnya pada jam 1 atau jam 2 dini hari.

Kebiasaan untuk tidur dan bangun sesuai waktunya bisa di mulai sejak dini, dan tentu saja, pola tidurnya  harus benar-benar  di manajemn agar semuanya bisa berjalan sesuai dengan yang di harapkan. Karena pola tidur yang buruk, akan berpengaruh kepada pola hidup yang buruk pula. Dan sebaliknya, pola tidur yang baik maka akan berpengaruh positif pada pola hidup yang baik juga. Insya Allah.

6. Tidak terburu-buru.

Kita bisa menyampaikan kepada si kecil bahwa, anak yang suka shalat subuh (tepat waktu) dia tidak akan terburu-buru dalam hidupnya. Kenapa? Karena biasanya anak yang bangun tidur, dan subuh tepat waktu, dia memiliki bentangan waktu yang cukup banyak. Whudunya, shalatnya, berdo’anya, tidak akan di lakukan dengan terburu-buru.

Berbeda dengan yang bangunnya kesiangan, maka dia akan bangun terbur-buru, ke kamar mandi terburu-buru, whudu dengan terburu-buru dan tentu saja shalat dengan terburu-buru pula, dan semua aktivitasnya menjadi tidak tenang karena di lakukan dengan terburu-buru.

Alangkah repotnya jika hidup kita serba terburu-buru. Maka, suasana menjadi kacau, hati menjadi tidak tentram, pikiran runyam dan waktu terasa sempit.

Mari kita sampaikan kepada si kecil. Kita tinggal pilih, mau aman tentram dan nyaman atau kacau balau?

7. Memiliki waktu lebih banyak.

Sahabat Ummi, kita juga  bisa menyampaikan pemahaman kepada si kecil, apalagi si kecil yang sudah sekolah. Sampaikanlah bahwa anak yang shalat subuh tepat waktu, maka dia memilki waktu yang banyak, waktu yang lebih luang, waktu yang tenang, waktu yang fresh untuk beraktivitas.

Nah, waktu tersebut bisa di gunakan untuk melakukan banyak hal. Iya, banyak hal.

Bisa mengerjakan PR jika PRnya belum selesai di kerjakan. Bisa mengerjakan tugas lain, bisa membantu orang tua, membereskan tempat tidur, menyiapkan peralatan sekolah yang akan di bawa, menambah hafalan qur’an, tilawah, muroja’ah, menyiapkan untuk ujian (jika akan ujian) dan jika memiliki lebih banyak waktu. Maka semuanya akan terselesaikan dengan baik.

Maka beruntunglah anak yang selalu shalat subuh tepat waktu, karena dia memiliki waktu yang baaanyak sekali untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif.

8. Reward shalat subuh.

Reward? Walaah, terlalu memanjakan nih.

Tidak, tidak mesti uang, tidak mesti jajanan mahal, tidak mesti membelikan mainan yang super mahal, tidak mesti membelikan motor-motoran, mobil-mobilan, HP android. Enggak seberat itu.

Kita bisa membuat reward yang suuuuper murah.

Dengan apa?

KARTU PENGHARGAAN.

Bagi si kecil yang masih sulit untuk shalat subuh, yang masih males-malesan untuk shalat subuh, yang masih belum terbiasa dengan shalat subuh. Nah, kita bisa memulai memotivasi anak dengan kartu reward.

Kita bikin 2 buah kartu. Dengan 2 warna yang berbeda.

Kartu pertama beri label The Winner dan kartu yang kedua beri label The Looser.

Dan kemudian apa?

Setiap anak yang melakukan shalat subuh, kita beri kartu the winner. Dan setiap anak melewati shalat subuh, kita berikan kartu the looser. Eh eh, sebentar. Ini pastinya atas dasar persetujuan kedua belah pihak ya (anak dan ortu) kalau sudah sepakat baru lakukan ya.

Finally, kita cek kartu reward anak kita di akhir pekan. Lebih banyak mana, apakah lebih dominan kartu the winner atau the looser.

Kalau memang lebih dominan kartu the winner yang dia dapat. Boleh laaah, kita ajak anak-anak kita untuk carfree day dan naik mainan yang dia inginkan. Atau dengan penghargaan lain yang lebih logis misalnya traktir mie ramen? Hehehehehe.

Namun jika kartu the looser lebih dominan yang dia kumpulkan, siap-siap si kecil mendapat hukuman. Tidak mesti hukuman berat, lah. Simple aja semisal membersihkan kamar mandi, ngepel lantai, membereskan buku ayah atau kegiatan-kegiatan lain yang lebih positif.

Semoga anak kita adalah anak yang saaangat mencintai shalat subuh, termasuk anak yang sangat suka dengan shalat fardhu yang lain. Aamiiin.

Foto ilustrasi: google

Profil Penulis.

Iwan Alfarizy. Freelance writer, Guru SDIT dan ayah dari 2 putri.