Setidaknya, tahun ini jamaah haji yang tengah melaksanakan ibadah di tanah suci akan tinggal selama kurang lebih 38 hari. Sekitar 30 hari berada di Mekkah dan 8 hari di Madinah. Sementara jika dihitung mulai berangkat ke Arofah pada tanggal 8 Dzulhijjah hingga melontar jumrah pada tanggal 13 Dzulhijjah, maka prosesi haji hanya menghabiskan waktu 5-6 hari saja.

Lantas, kenapa begitu lamanya tinggal di Mekkah? Hal ini lantaran panjangnya antrian pemulangan jamaah haji ke Tanah Air. Tahun ini jumlahnya mencapai lebih dari 155 ribu jamaah termasuk petugas. Boleh jadi, sekian lama tinggal di Mekkah, tentu ada rasa jenuh. Nah, untuk mengusir kejenuhan itu biasanya jamaah haji akan diikutkan dalam kegiatan berupa ziarah-ziarah ke tempat-tempat bersejarah antara lain ke Jabal Rahmah, Jabal Tsur, Jabal Nur, bahkan ada yang sanggup naik ke Gua Hira. Ada pula yang mengadakan city tour di sekitar Jeddah.

Selain memperbanyak ibadah di Masjidil Haram, biasanya yang tak kalah serunya dilakukan jamaah haji Indonesia –yang dikenal dengan doyan belanja— adalah berburu oleh-oleh, barang-barang unik di sela-sela ibadah. Memang, hampir 90% jamaah haji Indonesia menyempatkan diri untuk belanja cinderamata untuk dibawa ke rumah. Namun, sebelum berbelanja selama di Tanah Suci, sebaiknya jamaah haji memperhatikan tips berikut:

Berbelanjalah sesuai kebutuhan

Anda akan mendapati begitu banyaknya barang dagangan yang ditawarkan pedagang. Apalagi, harga yang dibanderol murah-murah, hal ini kerap membuat Anda kalap. Tak sedikit jamaah yang main borong barang tanpa perhitungan. Tentu ini tidak bijaksana. Mengingat tujuan ke tanah suci untuk beribadah bukan melancong. Memang, wajar dan menjadi hak setiap manusia untuk berbelanja. Hanya saja harus ingat tujuan utama berhaji, bukan lantas untuk memuaskan hawa nafsu pribadi. Dan yang musti diingat oleh jamaah bahwa kapasitas berat maksimal koper haji hanya 30 kg saja. Untuk itu, Anda harus memperkirakan berat dan volume barang yang akan dibeli.

Harus berani menawar

Sudah menjadi hukum pasar, ketika kondisi lagi ramai banyak pedagang memanfaatkan sebaik mungkin untuk meraup untung. Apalagi, para pedagang di Tanah Suci sudah paham betul karakter jamaah haji Indonesia yang suka berbelanja tanpa berusaha menawar. aji mumpung dengan baik. Boleh jadi hal ini lantaran takut atau kendala bahasa soal tawar menawar.

Padahal, Anda bisa saja berkomunikasi dengan pedagang menggunakan bahasa isyarat layaknya tarzan. Sebab, mereka pun sudah mengerti, malah banyak pedagang baik yang di Mekkah, Madinah maupun Jeddah sudah fasih berbahasa Indonesia. Jadi, Anda tak usah kuatir atau takut akan gagal berkomunikasi dengan mereka saat menawar. Anda bisa menggunakan bahasa Indonesia, atau pakai bahasa ‘tarzan’ pun patut dicoba.

Memang, para pedagang di Tanah Suci mengedepankan kejujuran soal barang dagangan. Artinya,kalau Anda tanya barang itu asli atau palsu, maka pedagang akan menjelaskannya dengan jujur, insya Allah tidak berbohong soal barang. Tapi, soal harga, seperti kebanyakan pedagang, mereka menawarkan harga hingga dua-tiga kali lipat dari harga sebenarnya. Karena itu, beranilah menawarnya. Contoh pedagang menawarkan barang dengan harga 450 Riyal Arab Saudi (SR). Setelah ditawar, bisa turun menjadi hanya SR 120 saja.

Soal tawar menawar, tentu akan mengalami ketidakcocokan ketika Anda menemui pedagang yang tak paham bahasa Indonesia. Nah, biasanya pedagang akan menggunakan kalkulator dengan memencet semisal angka SR75 lalu disodorkan ke Anda. Kemudian Anda menawar jadi SR45, kalau pedagang tak setuju, biasanya mereka akan menggelengkan kepala, atau berkata “La” (tidak boleh).Lalu biasanya mereka akan menyodorkan harga semisal SR60, sembari bilang “Kalam Akhir” atau “Kalam Wahid” itu artinya harga pas, tak bisa ditawar lagi.

Tawarlah harga dibawah 50% dari yang ditawarkan. Semisal harga SR200, coba tawarlah SR90 dulu. Tapi ini berlaku untuk barang yang dibanderol ratusan riyal. Sementara untuk barang yang ditawarkan berkisar puluhan riyal, mereka hanya mengambil untung sedikit, hal ini terlihat ketika mereka bilang, “maafii faedah” (untungnya sedikit). Jika demikian, Anda tidak bisa menawar lagi.

Bawa uang secukupnya

Demi keamanan Anda, maka ketika berbelanja atau ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi jangan terlalu banyak bawa uang. Sebab, sudah banyak kejadian jamaah haji yang dipalak atau dijambret. Sebaiknya, belanjalah sedikit demi sedikit, sembari ingat kapasitas bagasi dan ketersediaan bekal.

Belanja kurma Madinah

Ketika di Madinah, biasanya Anda akan diikutsertakan dalam ziarah/city tour. Salah satunya ke Kebun Kurma yang ada di Madinah. Nah, sebaiknya Anda tak usah membeli kurma di tempat ini, cukup cicipi saja, gratis. Tapi, bagi Anda yang ingin belanja kurma Madinah, maka sebaiknya beli di Pasar Kurma yang letaknya sekitar 500 meter sebelah selatan dari Masjid Nabawi. Di pasar ini, harganya lebih murah dibanding di Kebun Kurma yang terpaut sekitar SR10. (sumber: hajiumrahnews.com)